Final Liga Champion 2005 dikenang karena Liverpool
bisa menang meski saat turun minum AC Milan sudah unggul 3-0. Jamie Carragher,
dalam otobiografinya, bercerita bagaimana jeda 15 menit setelah babak pertama
mengubah penampilan Liverpool di babak kedua.
Seperti dikutip koran Liverpool Echo pada Senin (8/9),
dalam otobiografi berjudul "Carra: My Autobiography", Carragher dan
rekan-rekan satu tim masuk ruang istirahat selesai babak pertama dengan
perasaan kacau.
Selama 45 menit sebelumnya, AC Milan memperlihatkan
sepakbola memikat yang membuat gawang Liverpool kemasukan tiga kali. Harapan
Liverpool mendapatkan trofi Liga Champion kelima kalinya seperti menguap.
Carragher merasa dipermalukan dan tidak bisa berbuat
apapun. "Saya tidak mampu mengangkat kepala dan melihat wajah-wajah
penonton, atau tulisan serta seragam merah di Stadion Ataturk," tulisnya.
"Impian saya menjadi debu."
Pemain belakang itu sudah tidak lagi memikirkan
pertandingan. "Pikiran saya tertuju keluarga dan teman-teman. Saya merasa
pilu," tambahnya. "Banyak pikiran remeh muncul di kepala seperti:
nanti orang di rumah bicara apa ya tentang ini?"
Memikirkan bahwa nantinya akan pulang ke rumah dan
menjadi bahan tertawaan, membuat pikiran Garragher kacau. Ia merasa seluruh
Liverpool, seluruh Inggris, bahkan seluruh dunia, akan meledeknya.
"Ada rasa malu bercampur sedih," tulisnya.
"Fans Liverpool sudah datang ke stadion dan tidak ada yang bisa dilakukan
untuk memperbaiki ini."
Garragher bahkan mulai menyesal kesebelasannya bisa
sampai final. "Setelah mengalahkan Juventus dan Chelsea, tampaknya
sekarang hanya membiarkan AC Milan mengungguli dan mungkin menciptakan
kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champion," kenangnya.
Pada 1994, AC Milan menghancurkan Barcelona 4-0. Lima
tahun sebelumnya, AC Milan mengalahkan Steaua Bucharest juga dengan angka sama,
4-0.
Carragher cemas Liverpool akan mendapat gol lebih
banyak lagi dari AC Milan dan menciptakan rekor baru, rekor yang akan
mempermalukan dirinya. "Menjaga skor tetap 3-0 dan setidaknya memulihkan
kehormatan menjadi penting bagi saya," ungkapnya.
Tak satupun pemain Liverpool berbicara saat berjalan
menuju ruang ganti untuk beristirahat selama 15 menit. Ada legenda bahwa dalam
15 menit istirahat, Liverpool bisa mendapatkan keajaiban. "Tapi saat itu
rasanya tidak seperti itu," tulisnya.
Carragher juga menulis dalam keadaan seperti ini, yang
paling sulit adalah tidak menyerah. "Lebih mudah bagi kami untuk mengakui
bahwa ambisi kami berantakan, bahwa sembilan
bulan berjuang berakhir dengan bencana," ungkapnya.
Secara mental, Carragher dan rekan-rekannya sudah
berantakan meski tahu bahwa ia, dan rekan-rekannya, tidak pernah menyerah.
Untung saja di saat istirahat itu setidaknya ada satu orang yang tetap waras
dan memulihkan semangat. Orang itu adalah si pelatih, Rafa Benitez.
Di saat istirahat itu gaya Rafa yang sangat tenang,
tidak berubah. "Sikap tenang itu sangat dibutuhkan saat itu," ungkap
Carragher.
Padahal Carragher bisa memastikan ia merasa hal yang
sama dengan para pemain. Ia tidak akan sanggup menghadapi keluarga dan kerabat
di kampung halamannya di Spanyol.
Tapi Rafa, dengan bahasa Inggris yang tidak sempurna,
mencoba memulihkan Liverpool.
Wajah Rafa tetap tenang saat ia menjelaskan sejumlah
perubahan dengan cepat. Pertama, ia meminta Djimi Traore ke kamar mandi.
"Itu adalah isyarat halus bagi satu pemain bahwa ia diganti," ungkap
Carragher.
Djibril Cisse,
yang belum dimainkan, diberi tahu ia akan diletakkan dibagian kanan.
Saat Traore melepas baju, Steve Finnan dan dokter tim
Dave Galley bertengkar. Finnan mengalami cedera dan Galley meminta Rafa
mengganti Finnan. Finnan tidak ingin diganti.
Rafa mengatakan, "Kami hanya memiliki dua
cadangan karena Kewell sudah cedera. Saya tidak tidak mungkin membiarkan dua
pemain cedera dan jika kamu tetap bermain, saya akan kehilangan cadangan
terakhir."
Jadi Traore tidak jadi diganti, ia diminta memakai
kembali seragamnya.
Saat semua orang bingung, Rafa membuat keputusan
cepat. "Hamann akan mengganti Finnan dan kita memainkan 3-5-2,"
katanya dengan nada yakin. Nada yakin
ini membuat kepercayaan diri Carragher sedikit pulih.
Rafa menambahkan, "Pirlo mengendalikan permainan
dari tengah, jadi saya ingin Luis dan Stevie bermain di sekitarnya dan mengalahkannya
di tengah agar ia tidak bisa memberi umpan."
Kecepatan keputusan ini membuat Carragher yakin ia
bahwa Rafa sudah mempertimbangkan formasi ini sebelumnya. Formasi yang sangat
defensif ini sebelumnya berhasil digunakan Liverpool saat menaklukkan Juventus.
Karena baik Cisse maupun Hamann sekarang bersiap masuk
lapangan sedang yang keluar hanya Finnan, ada satu masalah kecil. Pemain
Liverpool yang akan turun jumlahnya menjadi 12.
Hamann akhirnya diturunkan dan dan Djibril menunggu
beberapa lama sebelum akhirnya diturunkan.
Saat Carragher keluar lorong menuju lapangan, ia tidak
berani menatap wajah Paolo Maldini yang keras dan peuh semangat memimpin AC
Milan.
Belakangan muncul cerita bahwa saat istirahat itu para
pemain AC Milan sudah merayakan kemenangan. Tapi Carragher tidak melihat ada
perubahan sikap para pemain Milan itu. Mereka masih tetap kokoh turun lapangan.
Saat itu, tulis Carragher, "Saya yakin Milan akan
menang, begitu juga keyakinan 40 ribu penonton di Istanbul."
Di lorong itu Carragher mulai mendengarkan para
pendukung Liverpool menyanyikan lagu "kebangsaan" klub: You'll Never
Walk Alone. Semakin dekat lapangan, lagu itu semakin keras.
Carragher merasa ada perbedaan dengan lagu You'll
Never Walk Alone yang biasa didengar di Anfield, kandang Liverpool. Di Anfield,
lagu ini biasa dinyanyikan untuk menyemangati pemain dan menakuti lawan sebelum
pertandingan atau merayakan kemenangan sesudah pertandingan.
"Di saat istirahat babak pertama di Istanbul,
fans menyanyikan lagu ini lebih sebagai tanda simpati daripada kepercayaan
diri," kata Garragher.
Lagu ini memang tentang memberi simpati.
Walk on through the wind,
Walk on through the rain,
Though your dreams be tossed and blown.
Walk on walk on, with hope in your heart
And you'll never walk alone
(Berjalanlah melewati angin
Berjalanlan melewati hujan,
Meski mimpimu jatuh dan hancur.
Berjalanlah terus, dengan hati yakin
Dan kau tak tak pernah berjalan sendirian)
Carragher merasa lagu ini begitu menyayat, mirip
himne. "Fans jelas sudah berdoa untuk kami," kenang Carragher.
Bagi Carragher, lagu itu adalah cara para fans
Liverpool mengatakan, "Kami main bangga denganmu, kami masih bersamamu,
jangan menyerah."
Asisten Rafa, Alex Miller, memberi petunjuk akhir
sebelum pemain turun di babak kedua. "Buat gol untuk para fan itu,"
katanya.
Itu adalah pikiran yang Carragher dapat. "Buat
satu gol dan kehormatan bisa dipulihkan," ungkapnya.
Babak kedua menjadi sejarah. Liverpool bisa memasukkan
tiga gol di babak kedua dan kemudian menang adu pinalti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar