Sabtu, 08 Juni 2013

15 Menit di Istanbul

Final Liga Champion 2005 dikenang karena Liverpool bisa menang meski saat turun minum AC Milan sudah unggul 3-0. Jamie Carragher, dalam otobiografinya, bercerita bagaimana jeda 15 menit setelah babak pertama mengubah penampilan Liverpool di babak kedua.


Seperti dikutip koran Liverpool Echo pada Senin (8/9), dalam otobiografi berjudul "Carra: My Autobiography", Carragher dan rekan-rekan satu tim masuk ruang istirahat selesai babak pertama dengan perasaan kacau.

Selama 45 menit sebelumnya, AC Milan memperlihatkan sepakbola memikat yang membuat gawang Liverpool kemasukan tiga kali. Harapan Liverpool mendapatkan trofi Liga Champion kelima kalinya seperti menguap.

Carragher merasa dipermalukan dan tidak bisa berbuat apapun. "Saya tidak mampu mengangkat kepala dan melihat wajah-wajah penonton, atau tulisan serta seragam merah di Stadion Ataturk," tulisnya. "Impian saya menjadi debu."

Pemain belakang itu sudah tidak lagi memikirkan pertandingan. "Pikiran saya tertuju keluarga dan teman-teman. Saya merasa pilu," tambahnya. "Banyak pikiran remeh muncul di kepala seperti: nanti orang di rumah bicara apa ya tentang ini?"

Memikirkan bahwa nantinya akan pulang ke rumah dan menjadi bahan tertawaan, membuat pikiran Garragher kacau. Ia merasa seluruh Liverpool, seluruh Inggris, bahkan seluruh dunia, akan meledeknya.

"Ada rasa malu bercampur sedih," tulisnya. "Fans Liverpool sudah datang ke stadion dan tidak ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki ini."

Garragher bahkan mulai menyesal kesebelasannya bisa sampai final. "Setelah mengalahkan Juventus dan Chelsea, tampaknya sekarang hanya membiarkan AC Milan mengungguli dan mungkin menciptakan kemenangan terbesar dalam sejarah final Liga Champion," kenangnya.

Pada 1994, AC Milan menghancurkan Barcelona 4-0. Lima tahun sebelumnya, AC Milan mengalahkan Steaua Bucharest juga dengan angka sama, 4-0.

Carragher cemas Liverpool akan mendapat gol lebih banyak lagi dari AC Milan dan menciptakan rekor baru, rekor yang akan mempermalukan dirinya. "Menjaga skor tetap 3-0 dan setidaknya memulihkan kehormatan menjadi penting bagi saya," ungkapnya.

Tak satupun pemain Liverpool berbicara saat berjalan menuju ruang ganti untuk beristirahat selama 15 menit. Ada legenda bahwa dalam 15 menit istirahat, Liverpool bisa mendapatkan keajaiban. "Tapi saat itu rasanya tidak seperti itu," tulisnya.

Carragher juga menulis dalam keadaan seperti ini, yang paling sulit adalah tidak menyerah. "Lebih mudah bagi kami untuk mengakui bahwa ambisi kami berantakan, bahwa sembilan  bulan berjuang berakhir dengan bencana," ungkapnya.

Secara mental, Carragher dan rekan-rekannya sudah berantakan meski tahu bahwa ia, dan rekan-rekannya, tidak pernah menyerah. Untung saja di saat istirahat itu setidaknya ada satu orang yang tetap waras dan memulihkan semangat. Orang itu adalah si pelatih, Rafa Benitez.

Di saat istirahat itu gaya Rafa yang sangat tenang, tidak berubah. "Sikap tenang itu sangat dibutuhkan saat itu," ungkap Carragher.

Padahal Carragher bisa memastikan ia merasa hal yang sama dengan para pemain. Ia tidak akan sanggup menghadapi keluarga dan kerabat di kampung halamannya di Spanyol.


Tapi Rafa, dengan bahasa Inggris yang tidak sempurna, mencoba memulihkan Liverpool.

Wajah Rafa tetap tenang saat ia menjelaskan sejumlah perubahan dengan cepat. Pertama, ia meminta Djimi Traore ke kamar mandi. "Itu adalah isyarat halus bagi satu pemain bahwa ia diganti," ungkap Carragher.

Djibril Cisse,  yang belum dimainkan, diberi tahu ia akan diletakkan dibagian kanan.

Saat Traore melepas baju, Steve Finnan dan dokter tim Dave Galley bertengkar. Finnan mengalami cedera dan Galley meminta Rafa mengganti Finnan. Finnan tidak ingin diganti.

Rafa mengatakan, "Kami hanya memiliki dua cadangan karena Kewell sudah cedera. Saya tidak tidak mungkin membiarkan dua pemain cedera dan jika kamu tetap bermain, saya akan kehilangan cadangan terakhir."

Jadi Traore tidak jadi diganti, ia diminta memakai kembali seragamnya.

Saat semua orang bingung, Rafa membuat keputusan cepat. "Hamann akan mengganti Finnan dan kita memainkan 3-5-2," katanya dengan nada yakin. Nada  yakin ini membuat kepercayaan diri Carragher sedikit pulih.

Rafa menambahkan, "Pirlo mengendalikan permainan dari tengah, jadi saya ingin Luis dan Stevie bermain di sekitarnya dan mengalahkannya di tengah agar ia tidak bisa memberi umpan."

Kecepatan keputusan ini membuat Carragher yakin ia bahwa Rafa sudah mempertimbangkan formasi ini sebelumnya. Formasi yang sangat defensif ini sebelumnya berhasil digunakan Liverpool saat menaklukkan Juventus.

Karena baik Cisse maupun Hamann sekarang bersiap masuk lapangan sedang yang keluar hanya Finnan, ada satu masalah kecil. Pemain Liverpool yang akan turun jumlahnya menjadi 12.

Hamann akhirnya diturunkan dan dan Djibril menunggu beberapa lama sebelum akhirnya diturunkan.

Saat Carragher keluar lorong menuju lapangan, ia tidak berani menatap wajah Paolo Maldini yang keras dan peuh semangat memimpin AC Milan.

Belakangan muncul cerita bahwa saat istirahat itu para pemain AC Milan sudah merayakan kemenangan. Tapi Carragher tidak melihat ada perubahan sikap para pemain Milan itu. Mereka masih tetap kokoh turun lapangan.

Saat itu, tulis Carragher, "Saya yakin Milan akan menang, begitu juga keyakinan 40 ribu penonton di Istanbul."

Di lorong itu Carragher mulai mendengarkan para pendukung Liverpool menyanyikan lagu "kebangsaan" klub: You'll Never Walk Alone. Semakin dekat lapangan, lagu itu semakin keras.

Carragher merasa ada perbedaan dengan lagu You'll Never Walk Alone yang biasa didengar di Anfield, kandang Liverpool. Di Anfield, lagu ini biasa dinyanyikan untuk menyemangati pemain dan menakuti lawan sebelum pertandingan atau merayakan kemenangan sesudah pertandingan.

"Di saat istirahat babak pertama di Istanbul, fans menyanyikan lagu ini lebih sebagai tanda simpati daripada kepercayaan diri," kata Garragher.

Lagu ini memang tentang memberi simpati.

Walk on through the wind,
Walk on through the rain,
Though your dreams be tossed and blown.
Walk on walk on, with hope in your heart
And you'll never walk alone

(Berjalanlah melewati angin
Berjalanlan melewati hujan,
Meski mimpimu jatuh dan hancur.
Berjalanlah terus, dengan hati yakin
Dan kau tak tak pernah berjalan sendirian)

Carragher merasa lagu ini begitu menyayat, mirip himne. "Fans jelas sudah berdoa untuk kami," kenang Carragher.

Bagi Carragher, lagu itu adalah cara para fans Liverpool mengatakan, "Kami main bangga denganmu, kami masih bersamamu, jangan menyerah."

Asisten Rafa, Alex Miller, memberi petunjuk akhir sebelum pemain turun di babak kedua. "Buat gol untuk para fan itu," katanya.

Itu adalah pikiran yang Carragher dapat. "Buat satu gol dan kehormatan bisa dipulihkan," ungkapnya.


Babak kedua menjadi sejarah. Liverpool bisa memasukkan tiga gol di babak kedua dan kemudian menang adu pinalti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar